Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Pojok Ustadz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pojok Ustadz. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2023

CARA MEMOTONG KUKU YANG BAIK DAN BENAR AGAR MENDAPATKAN PAHALA

URUTAN MEMOTONG KUKU YANG BAIK DAN BENAR
( Oleh Ustadz Masyhuri Amir Assalim, S.Pd.I. )

Ustadz Masyhuri
Dalam Islam memotong kuku erat kaitannya dengan bersuci atau menjaga kebersihan. Bahkan praktik tersebut termasuk dalam salah satu fitrah amaliah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "(Sunnah) fitrah ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur bulu ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kuku." (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain yang berasal dari Aisyah RA, memotong kuku juga termasuk dalam 10 perkara fitrah. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Sepuluh hal yang termasuk fitrah, yaitu menggunting (menipiskan) kumis, memelihara (memanjangkan) jenggot, bersiwak (menggosok gigi), istinsyak (memasukkan air ke hidung ketika berwudhu), memotong kuku, membasuh sela-sela jari (Barajim), mencabut (mencukur) bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan bersuci dengan menghemat air." (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah)
Hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam memerhatikan kebersihan seseorang. Imam Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari menyebutkan, tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan secara detail tentang urutan potong kuku. Dengan kata lain, tidak ada tuntunan rinci dari Rasulullah SAW.
"Tidak ada sama sekali hadits shahih dalam masalah urutan jari yang dipotong kukunya," kata Ibnu Hajar yang diterjemahkan Farid Nu'man dalam buku Fiqih Praktis Sehari-hari.
Meski demikian, Rasulullah SAW pernah mencontohkan, memulai segala kegiatannya dari tangan kanan. Sebab, Rasulullah SAW menyukai segala sesuatu dari kanan. Istri Rasulullah SAW, Aisyah RA berkata dalam suatu hadits:
Artinya: Dahulu, Nabi Muhammad SAW memulai sesuatu dari kanan, (misal) memakai sandal, menyisir, bersuci, dan semua perbuatan lainnya (HR Bukhari).
Tuntunan Rasulullah SAW tersebut sudah sepatutnya dicontoh oleh muslim. Meski tidak ada urutan detail mengenai cara memotong kuku.

Urutan Potong Kuku Menurut Islam

  • Imam an Nawawi dalam Kitab al Minhaj Syarh Shahih Muslim pernah merinci urutan potong kuku menurut Islam. Menurutnya, urutan dimulai dari kuku jari telunjuk kanan lalu jari tengah, jari manis, jari kelingking, dan jari jempol.
  • "Selanjutnya, tangan kiri dimulai dari jari kelingking, jari manis, sampai selesai semua," tulis Imam an Nawawi.
  • Namun, ada juga yang berpendapat dalam Syarah Riyadhus Shalihin Jilid II yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, memotong kuku jari tangan kanan dimulai dari jempol lalu berakhir di jari kelingking.

Read more ...

GAJI DAN REJEKI

 GAJI DAN REZEKI
(Oleh Ustadz Ma'danil Iman, S.Pd.I., M.Pd.)

(Ustadz Ma'danil Iman)
    Kata gaji sudah tidak asing lagi bagi kaum pegawai, karyawan dan sejenisnya. Mereka akan menunggu awal bulan dan menanti-nanti datangnya waktu gajian. Tidak dapat dipungkiri bahwa mindset kaum gajian akan selalu mendambakan gaji.
    Sebagai muhasabah/introspeksi diri perihal rezeki sering sekali diabaikan, baik bagi kaum pegawai atau pun kaum wirausahawan. Bagi pegawai hanya gaji yang dinanti, adapun kaum wirausahawan  hanya omset yang dikejar.
    Fakta di atas tidak semuanya salah karena masing-masing membawa manfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun perlu ada yang diluruskan.

    Tulisan sederhana ini akan membuka cara pandang Anda tentang gaji dan rezeki. Sebelumnya mari disimak pernyataan yang saling berlawanan di bawah ini:

  • Gaji itu dibatasi, sedangkan rezeki tak terbatas.
  • Gaji itu dinanti keinginan, sedangkan rezeki dinanti ketenangan.
  • Gaji itu terduga, sedangkan rezeki tak terduga.
  • Gaji itu dari perusahaan, sedangkan rezeki  dari Tuhan.
  • Gaji itu belum tentu memuaskan, sedangkan rezeki pasti mencukupkan.
  • Tidak semua orang punya gaji, tapi semua orang pasti punya rezeki, dan seterusnya.

    Hati hati dengan pola pikir yang keliru, saat seseorang hanya fokus terhadap gaji maka akan lelah, karena sebesar apapun gaji belum tentu mencukupi. Mulailah fokus terhadap rezeki. Rezeki itu luas dan melimpah, bahkan gajipun termasuk salah satu rezeki yang berbentuk uang. Kesehatan itu rezeki, karena kondisi sehat maka akan mendapatkan uang, ilmu itu rezeki karena dengan ilmu akan mendapatkan uang, silaturahim itu rezeki karena dengan silarurahim akan mendatangkan uang. Jadi apabila seseorang hanya fokus kepada gaji, saat gaji itu habis maka akan terasa gundah gulana, ia lupa bahwa hari itu gaji boleh habis tapi ia tidak mampu memanfaatkan kesehatannya untk berpikir mencari rezeki lain, ilmunya sempit dan tidak dapat menghasilkan rezeki lain, hubungan silaturahimnya terputus tidak dapat rezeki lain.
    Mulailah fokus terhadap rezeki agar jiwa dan raga  mampu merespon peluang-peluang lain yang ada di sekitar, dengan peluang itu akan mampu menghasilkan rezeki yang berlimpah termasuk uang dan materi lainnya. Sebagai penegasan, perlu diketahui bahwa Allah Swt. tidak menjanjikan gaji tapi menjamin rezeki untuk semua makhlukNya. Sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur'an surat Hud ayat 6.


Artinya:
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh al-Mahfuzh)."

    Firman Allah di atas sangat jelas bahwa Allah mengatur dan memberikan rezeki untuk semua makhluk, tidak terlepas seekor binatang melata yang tidak memiliki pikiran pun Allah jamin.
    Lalu bagaimana dengan manusia yang Allah anugerahkan akal untuk berpikir, lisan untuk berkomunikasi, tenaga untuk berbuat, masih merasa galau terhadap jaminan Allah, semua itu dikarenakan memiliki pikiran sempit bahwa yang mampu memenuhi kebutuhan adalah gaji dan mengabaikan rezeki. Padahal sekalipun gaji habis, kalau pikiran manusia fokus terhadap rezeki, maka Allah akan membuka pintu-pintu rezeki selain gaji dan itu akan mampu mencukupi semua kebutuhan manusia.

Wallahu a'lam

Read more ...

Selasa, 31 Januari 2023

Istilah-Istilah Guru dalam Pendidikan Islam

Istilah-Istilah Guru dalam Pendidikan Islam
( Oleh Ustadz Kohar )

Ustadz Kohar
   Dalam konteks pendidikan Islam, guru atau “pendidik” sering disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, mursyid dan Ustadz. Menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, keenam istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.

    Guru dalam khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi, Mursyid, dan  Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.

  1. Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.
  2. Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.
  3. Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.
  4. Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yang menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.
  5. Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.
  6. Ustadz secara umum diartikan sebagai Guru atau pendidik. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggung-jawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yang komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.

    Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yang pernah kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?

    Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti sebutan Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Yusuf Mansur dan lain-lain. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. (Ustadz Kohar)

Read more ...
Designed By HK 2023