URUTAN MEMOTONG KUKU YANG BAIK DAN BENAR ( Oleh Ustadz Masyhuri Amir Assalim, S.Pd.I. )
Ustadz Masyhuri
Dalam Islam memotong kuku erat kaitannya dengan bersuci atau
menjaga kebersihan. Bahkan praktik tersebut termasuk dalam salah satu fitrah
amaliah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah
SAW bersabda:
Artinya: "(Sunnah) fitrah ada lima, yaitu: khitan,
mencukur bulu kemaluan, mencukur bulu ketiak, memendekkan kumis, dan memotong
kuku." (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain yang berasal dari Aisyah RA, memotong
kuku juga termasuk dalam 10 perkara fitrah. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Sepuluh hal yang termasuk fitrah, yaitu
menggunting (menipiskan) kumis, memelihara (memanjangkan) jenggot, bersiwak
(menggosok gigi), istinsyak (memasukkan air ke hidung ketika berwudhu),
memotong kuku, membasuh sela-sela jari (Barajim), mencabut (mencukur) bulu
ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan bersuci dengan menghemat air." (HR
Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah)
Hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam memerhatikan
kebersihan seseorang. Imam Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari menyebutkan,
tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan secara detail tentang urutan
potong kuku. Dengan kata lain, tidak ada tuntunan rinci dari Rasulullah SAW.
"Tidak ada sama sekali hadits shahih dalam masalah
urutan jari yang dipotong kukunya," kata Ibnu Hajar yang diterjemahkan
Farid Nu'man dalam buku Fiqih Praktis Sehari-hari.
Meski demikian, Rasulullah SAW pernah mencontohkan, memulai
segala kegiatannya dari tangan kanan. Sebab, Rasulullah SAW menyukai segala
sesuatu dari kanan. Istri Rasulullah SAW, Aisyah RA berkata dalam suatu hadits:
Artinya: Dahulu, Nabi Muhammad SAW memulai sesuatu dari
kanan, (misal) memakai sandal, menyisir, bersuci, dan semua perbuatan lainnya
(HR Bukhari).
Tuntunan Rasulullah SAW tersebut sudah sepatutnya dicontoh
oleh muslim. Meski tidak ada urutan detail mengenai cara memotong kuku.
Urutan Potong Kuku Menurut Islam
Imam an Nawawi dalam Kitab al Minhaj Syarh Shahih Muslim
pernah merinci urutan potong kuku menurut Islam. Menurutnya, urutan dimulai
dari kuku jari telunjuk kanan lalu jari tengah, jari manis, jari kelingking,
dan jari jempol.
"Selanjutnya, tangan kiri dimulai dari jari kelingking,
jari manis, sampai selesai semua," tulis Imam an Nawawi.
Namun, ada juga yang berpendapat dalam Syarah Riyadhus
Shalihin Jilid II yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, memotong kuku jari
tangan kanan dimulai dari jempol lalu berakhir di jari kelingking.
GAJI DAN REZEKI (Oleh Ustadz Ma'danil Iman, S.Pd.I., M.Pd.)
(Ustadz Ma'danil Iman)
Kata gaji sudah tidak asing lagi bagi
kaum pegawai, karyawan dan sejenisnya. Mereka akan menunggu awal bulan dan
menanti-nanti datangnya waktu gajian. Tidak dapat dipungkiri bahwa mindset kaum
gajian akan selalu mendambakan gaji.
Sebagai muhasabah/introspeksi diri
perihal rezeki sering sekali diabaikan, baik bagi kaum pegawai atau pun kaum
wirausahawan. Bagi pegawai hanya gaji yang dinanti, adapun kaum
wirausahawan hanya omset yang dikejar.
Fakta di atas tidak semuanya salah karena
masing-masing membawa manfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun perlu ada
yang diluruskan.
Tulisan sederhana ini akan membuka cara
pandang Anda tentang gaji dan rezeki. Sebelumnya mari disimak pernyataan yang
saling berlawanan di bawah ini:
Gaji itu dibatasi, sedangkan rezeki tak
terbatas.
Gaji itu dinanti keinginan, sedangkan
rezeki dinanti ketenangan.
Gaji itu terduga, sedangkan rezeki tak
terduga.
Gaji itu dari perusahaan, sedangkan rezeki dari Tuhan.
Gaji itu belum tentu memuaskan, sedangkan
rezeki pasti mencukupkan.
Tidak semua orang punya gaji, tapi semua
orang pasti punya rezeki, dan seterusnya.
Hati hati dengan pola pikir yang keliru, saat
seseorang hanya fokus terhadap gaji maka akan lelah, karena sebesar apapun gaji
belum tentu mencukupi. Mulailah fokus terhadap rezeki. Rezeki itu luas dan
melimpah, bahkan gajipun termasuk salah satu rezeki yang berbentuk uang.
Kesehatan itu rezeki, karena kondisi sehat maka akan
mendapatkan uang, ilmu itu rezeki karena dengan ilmu akan mendapatkan uang,
silaturahim itu rezeki karena dengan silarurahim akan mendatangkan uang. Jadi
apabila seseorang hanya fokus kepada gaji, saat gaji itu habis maka akan terasa
gundah gulana, ia lupa bahwa hari itu gaji boleh habis tapi ia tidak mampu
memanfaatkan kesehatannya untk berpikir mencari rezeki lain, ilmunya sempit dan
tidak dapat menghasilkan rezeki lain, hubungan silaturahimnya terputus tidak
dapat rezeki lain.
Mulailah fokus terhadap rezeki agar jiwa dan
raga mampu merespon peluang-peluang lain
yang ada di sekitar, dengan peluang itu akan mampu menghasilkan rezeki yang
berlimpah termasuk uang dan materi lainnya. Sebagai penegasan, perlu diketahui
bahwa Allah Swt. tidak menjanjikan gaji tapi menjamin rezeki untuk semua
makhlukNya. Sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur'an surat Hud ayat 6.
Artinya:
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun
di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat
berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab
yang nyata (Lauh al-Mahfuzh)."
Firman Allah di atas sangat jelas bahwa
Allah mengatur dan memberikan rezeki untuk semua makhluk, tidak terlepas seekor
binatang melata yang tidak memiliki pikiran pun Allah jamin. Lalu bagaimana dengan manusia yang Allah
anugerahkan akal untuk berpikir, lisan untuk berkomunikasi, tenaga untuk
berbuat, masih merasa galau terhadap jaminan Allah, semua itu dikarenakan
memiliki pikiran sempit bahwa yang mampu memenuhi kebutuhan adalah gaji dan
mengabaikan rezeki. Padahal sekalipun gaji habis, kalau pikiran manusia fokus
terhadap rezeki, maka Allah akan membuka pintu-pintu rezeki selain gaji dan itu
akan mampu mencukupi semua kebutuhan manusia.
Dalam konteks pendidikan Islam, guru atau “pendidik” sering
disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, mursyid dan Ustadz.
Menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, keenam
istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
Guru dalam khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah
yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi,
Mursyid, dan Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.
Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang
menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di
hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.
Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang
yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum
tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya
menjadi tahu.
Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih
spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga
murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih
pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.
Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik:
Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi
lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki
kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara
intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yang menanam benih,
memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.
Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi.
Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih
luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak
murid-murid.
Ustadz secara umum diartikan sebagai Guru atau pendidik. Secara
dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang
Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga
mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena
bertanggung-jawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya
tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu
pendidik yang komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak,
terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.
Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah
“Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor
Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak
percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yang pernah kuliah di Timur
Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?
Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada
satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut
Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti
sebutan Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Yusuf Mansur dan
lain-lain. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di
dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. (Ustadz Kohar)