- Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.
- Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
- Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
- Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.
- Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.
Kamis, 23 Februari 2023
HATA (Halaqah Ta'dibiyah) Minggu Ke-6, Tema : Surat Al Qadr
Minggu, 12 Februari 2023
HATA (Halaqah Ta'dibiyah) Minggu Ke-5, Tema : Surat Al Alaq
Oleh : Agus Nurhidayat, S.Pd.
Sabtu, 11 Februari 2023
- Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
- Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
- Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
- Yang mengajar (manusia) dengan pena.
- Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
- Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas,
- apabila melihat dirinya serba cukup.
- Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu).
- Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang?
- seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat
- bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang shalat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk),
- atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
- Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling?
- Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?
- Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (ke dalam neraka),
- (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.
- Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
- Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah, (penyiksa orang-orang yang berdosa),
- sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).
Kemudian Jibril membawa wahyu sambil datang kepada Rasulullah seraya mengucap iqra (bacalah) sebanyak tiga kali tiap kali memeluk beliau. Jibril pun membacakan Al-Alaq dari ayat 1-5, sebagai wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bahwa beliau diangkat menjadi Nabi terakhir.Dari kisah tersebut, para ulama berpendapat bahwa wahyu dari Allah yang pertama kali turun pada masa kenabian yaitu surat Al-Alaq dan terdiri atas lima ayat.
Keutamaan dan Faedah Surat Al-Alaq
Dihimpun dari buku Tadabur Al-Quran yang ditulis Syaikh Adil
Muhammad Khalil (2018), berikut keutamaan dan faedah dalam surat Al-Alaq.
- Keutamaan pertama yaitu surat Al-Alaq diturunkan saat bulan Ramadan bersamaan dengan turunnya Alquran.
- Surat Al-Alaq adalah wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad sebagai tanda bahwa beliau istimewa dari Nabi lainnya, karena diutus langsung oleh Allah menjadi Nabi terakhir.
- Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barang siapa yang membaca surat ini (Al-Alaq), maka Allah mencatatnya pahala seperti pahala orang yang membaca surat-surat Al-Mufashshal. Ia juga memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengayunkan pedangnya di jalan Allah. Dan barangsiapa yang membacanya, sedangkan ia menaiki kapal, maka Allah akan memberinya keselamatan dari tenggelam." (Tafsir Al Burhan, Juz 8:322).
- Faedah utama surat Al-Alaq memerintahkan kepada setiap umat Rasul untuk Iqra (bacalah). Sebab pengikut Rasul ini adalah golongan umat yang mau membaca untuk mendapat ilmu.
- Kemudian terdapat wasilah dalam meraih ilmu sebagaimana tertulis dalam ayat 1-4. Ilmu merupakan bentuk karunia dari Allah sehingga manusia bisa mengetahui keberadaannya.
- Faedah lain dalam surat Al-Alaq yaitu mengingatkan kita untuk tidak melakukan hal yang melampaui batas, sehingga tidak menyesatkan diri sendiri ketika di akhirat.
Minggu, 05 Februari 2023
HATA (Halaqah Ta'dibiyah) Minggu Ke-4, Tema : Surat At Tin
SURAT AT TIN
Oleh : Dede Muhammad Ilcham
Sabtu, 4 Februari 2023
Terjemahan Surat At Tin
- Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
- dan demi bukit Sinai,
- dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
- sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
- Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
- kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
- Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
- Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
Nama At Tin diambil dari kata At Tin yang terdapat dalam
ayat pertama surat ini. Menurut Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili,
dinamakan surat At Tin karena Allah SWT bersumpah dalam permulaan surat ini
dengan At Tin dan Zaitun. Keduanya mempunyai kebaikan dan keberkahan serta
kemanfaatan.
M. Khalilurrahman Al Mahfani dalam bukunya Juz Amma Tajwid
Berwarna & Terjemahannya menjelaskan, sebagian ahli tafsir menafsirkan
maksud Tin pada ayat tersebut adalah tempat tinggal Nabi Nuh AS, yaitu Damaskus
yang banyak tumbuh pohon Tin, sedangkan Zaitun adalah Baitul Maqdis yang banyak
tumbuh Zaitun.
Surat At-Tin adalah surat ke-95 di Alquran yang artinya
adalah buah Tin. Surat At-Tin memiliki delapan ayat yang berisi tentang
penjelasan manfaat dari buah Tin serta nilai manusia serta kemuliaan manusia
karena agama yang mereka peluk. Selain itu, surat At-Tin juga menjelaskan
bagaimana rendahnya manusia serta kehinaan manusia jika manusia meninggalkan
agamanya.
Dalam surat At-Tin, Allah juga menjelaskan fungsi dari qasam atau
sumpah sebagai alat untuk mengungkap kebenaran. Contohnya dalam surat At-Tin
ditunjukan fungsi qasam Allah untuk mengungkapkan sumpah-Nya dengan
memberikan argumentasi mengenai kebenaran dari ucapan tersebut.
Dalam surat At-Tin ini pula, Allah bersumpah atas empat hal
di antaranya adalah 1) demi buah tin, 2) demi buah zaitun, 3) demi bukit Sinai,
4) demi kota Mekkah yang aman.
Dari keempat sumpah yang disebutkan dalam surat At-Tin
tersebut, menjadi saksi akan penciptaan umat manusia yang diberi tugas sebagai
khalifah di bumi.
Oleh karena itu, manusia perlu menjalani aktivitas
sehari-hari dengan mengharapkan ridho dari Allah agar mendapatkan berkah. Surat
At-Tin memiliki delapan ayat di dalamnya. Berikut ayat surat At-Tin, Arab,
latin disertai terjemahannya.
Kandungan Surat At Tin
Menurut Tafsir Al Munir, surat At Tin mengandung penjelasan
tiga hal yang berkaitan dengan manusia dan akidahnya. Surat Makkiyah ini
memuliakan manusia, sebab Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
paling bagus; seimbang badannya, rata anggota tubuhnya dan bagus susunannya.
Dia berfirman:
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit
Sinai, dan demi kota (Mekkah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At Tin: 1-4).
Kemudian, surat At Tin menjelaskan tentang penurunan manusia
ke dalam neraka Jahannam karena kekufuran mereka kepada Allah SWT dan
Rasulullah SAW, serta hari kebangkitan. Keingkaran manusia ini tetap terjadi
meskipun telah terdapat banyak dalil kuat yang menjelaskan penciptaan manusia
ini. Allah SWT berfirman:
"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka)," (At Tin: 5).
Akan tetapi, ada pengecualian bagi orang-orang yang beriman
dan beramal saleh, sebagaimana firman-Nya:
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya," (At Tin: 6).
Lebih lanjut Prof Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya
menjelaskan, surat At Tin juga menjelaskan mengenai prinsip keadilan mutlak
dalam memberikan pahala bagi orang-orang Mukmin dan menyiksa orang-orang kafir.
Allah SWT berfirman:
"Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari)
pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim
yang seadil-adilnya?" (At Tin: 7-8).
Senin, 30 Januari 2023
HATA (Halaqah Ta'dibiyah) Minggu Ke-3, Tema : Surat Al-Insyira
SURAT AL-INSYIRA
Oleh : Mira Karmila, S.Pd.I.
Sabtu, 28 Januari 2023
Terjemahan
Surat Al Insyirah
- Bukankah kami Telah melapangkan untukmu dadamu?
- Dan kami Telah menghilangkan daripadamu bebanmu
- Yang memberatkan punggungmu?
- Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu
- Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
- Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
- Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
- Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
![]() |
| Mira Karmila, S.Pd.I. |
Dalam buku Meraih Cinta Ilahi karya Jalaluddin Rakhmat menyebut bahwa di dalam surat Al Insyirah, Allah memberikan kelapangan dada kepada Rasulullah untuk menanggung beban berat itu sampai Allah melepaskannya.
Melansir
dalam buku Kedahsyatan Membaca Al-Quran karya Amirulloh Syarbini dan Sumantri
Jamhari, surat Al Insyirah mempertegas kewajiban kita untuk senantiasa
mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.
Kandungan
surat ini membangun pemikiran manusia untuk selalu optimis dalam menghadapi
ujian dari Allah. Disebutkan juga dalam sumber yang sama, ayat ini merubah
paradigma berfikir manusia yang meyakini bahwa "Dalam Satu Kesulitan
Terdapat Satu Jalan Keluar" menjadi paradigma berfikir yang meyakini bahwa
"Di Balik Satu Kesulitan Ada Banyak Jalan Keluar." Itulah spirit inna
ma'al 'usri yusra (sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan) yang
terdapat dalam surat Al Insyirah.
- Allah SWT akan memudahkan segala urusannya.
- Allah SWT akan menghilangkan segala duka citanya
- Allah SWT akan memudahkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Surat
Al Insyirah bisa diamalkan setiap selesai salat fardhu, bagi orang yang ingin
dilapangkan dadanya, cerdas pemikirannya, lepas dari segala kesulitan, hilang
rasa malas dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Makna
Surat Al Insyirah
Surat
Al Insyirah artinya melapangkan. Dalam surat Al Insyirah atau lam Nasyrah ini
Allah SWT memotivasi moral dan perjuangan Nabi Muhammad SAW selaku manusia
sempurna.
Bahkan
tak kalah mengejutkan, makna dalam surat Al Insyirah memiliki keterkaitan
dengan surat At Tiin, surat ke-95 dalam Alquran.
Karena
makna dalam surat At Tiin, diterangkan bahwa manusia itu adalah makhluk Allah
yang mempunyai kesanggupan, baik lahir maupun batin.
Nabi
Muhammad SAW dibangkitkan semangat dan motivasinya agar tak lagi bersedih. Hal
ini pula bagi umat Islam, agar tak lagi pesimis. Setiap orang terlahir sebagai
manusia yang sempurna.
Kandungan
Surat Al Insyirah
Selain
memahami bacaan surat Al Insyirah dan terjemahannya, alangkah baiknya kita juga
mengetahui kandungan dalam surat yang diturunkan di Mekkah ini.
Melansir
dari Liputan6 yang dikutip dari buku AT Tadzkir: Metode Menghafal Juz'Amma,
surat Al Insyirah artinya memiliki beberapa pokok isi kandungan. Salah satunya
kenikmatan dan kemudahan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Dengan
hilangnya kesedihan, kesempitan dan kesusahan dari beliau serta apa yang
berkenaan dengan hal itu. Selanjutnya, menghilangkan bencana, serta adanya
sebuah kabar gembira atas kemenangan yang sudah dekat.
Ditambah
lagi, kandungan dalam surat Al Insyirah tersebut juga berisi perintah agar
Rasulullah SAW beribadah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat, serta
bertawakal hanya mengharap ridho Allah SWT.
Sehingga,
dapat dikatakan bahwa di dalam kesulitan, pasti akan disertai dengan kemudahan.
Hal tersebut sejalan dengan perjuangan Nabi Muhammad SAW yang menghadapi
penolakan keras dari kaum musyrikin, tapi akhirnya diberikan kenikmatan yaitu
sebuah kemenangan.
Surat
Al Insyirah ini juga mengandung pengingat bagi umat muslim, bahwa setiap
kesulitan pasti ada kemudahan tapi harus didampingi dengan usaha.
Selain
itu, jangan pernah berhenti untuk terus bekerja keras. Diiringi pula dengan
berharap atas ridho dan kebaikan dari usaha tersebut hanya kepada Allah SWT.
Manfaat dan Keutamaan Surat Al-Insyirah
Seperti surah-surah dalam Al Quran lainnya,
surah Al-Insyirah juga mengandung beberapa manfaat dan keutamaan ketika
diamalkan oleh seorang mukmin dalam kehidupan sehari-hari.
- Mendapatkan kelapangan dalam hidup
- Mendapatkan kemudahan dalam mencari rezeki
- Mendapatkan kelapangan hati
Senin, 23 Januari 2023
HATA (Halaqah Ta'dibiyah) Minggu Ke-2, Tema : Surat Ad Dhuha
SURAT AD DHUHA
Oleh : Heri Kosasih, M.Pd.
Sabtu, 21 Januari 2023
Surat Ad Dhuha adalah surat ke-93 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 11 ayat. Surat ini diturunkan di Kota Mekkah dan tergolong surat Makkiyah.
Basharat Ahmad mengatakan dalam Anwarul Qur'an, surat Ad Dhuha menaruh perhatian terhadap tersiarnya cahaya matahari Islam secara berangsung-angsur. Sehingga, surat ini dinamakan Ad Dhuha yang artinya 'terangnya waktu siang'.
Terjemahan
Surah ad Dhuha
- Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),
- dan demi malam apabila telah sunyi,
- Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,
- dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.
- Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.
- Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
- dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,
- dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
- Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
- Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).
- Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
Disebutkan dalam Tafsir Al Azhar, Allah SWT
bersumpah atas dua ciptaan-Nya dalam surat Ad Dhuha ini, yakni waktu dhuha dan
waktu malam.
Artinya: "Demi waktu dhuha dan demi waktu malam apabila telah sunyi,"
(Ad Dhuha : 1-2).
Imam As-Suyuthi mengatakan dalam Asbabun Nuzul,
sebab turunnya ayat tersebut berkenaan dengan perkataan orang musyrik kepada Rasulullah
SAW yang kala itu beliau SAW tengah sakit dan tidak bisa melaksanakan sholat
malam. Hal ini merujuk pada sebuah riwayat Asy-Syaikhani dan lainnya.
Dari Jundub, ia berkata, "Nabi SAW mengeluh
sakit sehingga tidak bisa melaksanakan sholat malam selama satu atau dua malam.
Lantas datangnya seorang wanita dan berkata, 'Wahai Muhammad, aku lihat setanmu
telah meninggalkanmu.' Allah pun menurunkan firman-Nya, 'Demi waktu dhuha dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak
meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.' (Ad Dhuha:
1-3)."
Sementara itu, Said bin Manshur dan al-Firyabi
meriwayatkan dari Jundub, ia berkata, "Jibril
terlambat datang kepada Nabi SAW, sehingga orang-orang musyrikin berkata, 'Dia
telah meninggalkan Muhammad.'" Latas turunlah ayat tersebut.
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, "Kisah
terlambatnya turun Jibril disebabkan anak anjing adalah populer. Hanya saja
jika ini menjadi sebab turunnya ayat maka merupakan suatu yang aneh, bahkan
asing dan ditolak berdasarkan keterangan yang shahih."
Selanjutnya pada surat Ad Dhuha ayat 4, seperti
dijelaskan dalam Tafsir Kementerian Agama (Kemenag) RI, Allah SWT mengungkapkan
sesuatu yang melapangkan dada Nabi SAW dan menenteramkan jiwanya. Dijelaskan
bahwa keadaan dalam kehidupan Nabi SAW di hari-hari mendatang akan lebih baik
dibandingkan dengan hari-hari yang telah lalu.
Kebesarannya akan bertambah dan namanya akan
lebih dikenal. Allah akan selalu membimbingnya untuk mencapai kemuliaan dan
untuk menuju kepada kebesaran.
Janji Allah kepada Nabi Muhammad terus terbukti
karena sejak itu nama Nabi saw semakin terkenal, kedudukannya semakin bertambah
kuat, sehingga mencapai tingkat yang tidak pernah dicapai oleh para rasul
sebelumnya. Demikian penjelasan tafsir tersebut.
Pada ayat 5, Allah SWT menyampaikan berita
gembira kepada Rasulullah SAW bahwa Dia akan terus melimpahkan anugerah-Nya
kepada beliau, sehingga beliau menjadi senang dan bahagia. Di antara
pemberiannya itu adalah turunnya wahyu (Al-Qur'an) secara berangsur-angsur sebagai
petunjuk bagi Nabi SAW dan umatnya.
Kemudian, pada ayat 6, Allah SWT mengingatkan
nikmat yang pernah diterima Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan, "Bukankah
engkau hai Muhammad seorang anak yatim, tidak mempunyai ayah yang bertanggung
jawab atas pendidikanmu, menanggulangi kepentingan serta membimbingmu, tetapi
Aku telah menjaga, melindungi, dan membimbingmu serta menjauhkanmu dari
dosa-dosa perilaku orang-orang Jahiliah dan keburukan mereka, sehingga engkau
memperoleh julukan manusia sempurna."
Selain itu, Dia juga mengingatkan keadaan Nabi
Muhammad SAW yang lainnya, seperti tidak mengerti tentang syariat dan tidak
mengetahui tentang Al-Qur'an, kemudian Allah memberikan petunjuk kepadanya. Hal
ini diterangkan dalam ayat 7.
Allah SWT juga menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah seorang yang miskin. Kemudian Dia memberinya harta benda berupa
keuntungan yang amat besar dari istrinya Khadijah, baik harta yang
diperdagangkan maupun yang digunakan untuk dakwah. Sebagaimana firman-Nya dalam
ayat 8.
Lalu, pada ayat 9, sesudah mengingatkan tentang
bermacam-macam nikmat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT
kemudian meminta Nabi-Nya agar mensyukuri nikmat-nikmat tersebut serta tidak
menghina anak-anak yatim dan mengambil haknya.
Selain itu, dalam ayat 10, Allah SWT
memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar orang-orang yang meminta sesuatu
kepadanya jangan ditolak dengan kasar dan dibentak. Malah sebaliknya agar
diberi sesuatu atau ditolak secara halus.
Allah SWT mengakhiri surat Ad Dhuha ini dengan
menegaskan kembali kepada Nabi Muhammad SAW agar memperbanyak pemberiannya
kepada orang-orang fakir dan miskin serta mensyukuri, menyebut, dan mengingat
nikmat-Nya.
Kamis, 19 Januari 2023
Rabu, 18 Januari 2023
HATA (Halaqah Ta'dibiyah) Minggu Ke-I, Tema : ADAB MEMBACA AL-QUR’AN SEBELUM, KETIKA, DAN SESUDAH
ADAB
MEMBACA AL-QUR’AN SEBELUM, KETIKA, DAN SESUDAH
Oleh : Dr. Insan Nulyaman, M.Pd.I.
Sabtu, 14 Januari 2023
Al-Quran ialah kitab suci dan pedoman bagi umat muslim di dunia. Kitab suci ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Dalam isi kandungan Al-Quran banyak sekali manfaat dan hikmah bagi kita yang mengamalkan di dunia dan akan menjadi penolong di akhirat kelak. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim harus membaca Al-Quran dengan tartil dan diikuti sesuai adab yang benar agar kita dapat merasakan ketenangan hati serta ketentraman jiwa ketika membaca Al-Quran. Membaca Al-Quran juga mendapatkan pahala untuk kita.
“Bacalah
Al-Quran, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada
para pembacanya.” (HR. Imam Muslim).
Dalam membaca Al-Quran ada
adab-adab yang harus dilaksanakan. Menurut Dr. Insan Nulyaman, M.Pd.I. (Ketua
Umum DPD BKPRMI) adab-adab membaca Al-Quran ada tiga pembagian yaitu:
1.
Adab
Sebelum Membaca Al-Quran
Sebelum membaca Al-Quran,
kita sebagai umat muslim harus mensucikan diri terlebih dahulu maksudnya bersih
dari hadas kecil maupun besar dan sudah dalam keadaan berwudhu, lalu niatkan
untuk ibadah kepada Allah SWT, menghadap kiblat, tempat membacanya tidak najis,
menutup aurat, dan membaca ta'awuz.
“Dan
bila kamu akan membaca Al-Quran maka mintalah perlindungan kepada Allah dari
(godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl : 98)
![]() |
| Ilustrasi 2 Sedang Membaca Al-Quran |
![]() |
| Ilustrasi 1 Sedang Membaca Al-Quran |
2.
Adab
Ketika Membaca Al-Quran
Ketika sedang membaca Al-Quran
hendaknya kita memenuhi beberapa hal meliputi; bacalah secara perlahan dengan
memperhatikan tajwid serta makhrab yang jelas dan benar, membaca dengan
khusyuk, membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan lantang.
“…
atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan”.
(QS. Al-Muzammil : 4)
3.
Adab
Sesudah Membaca Al-Quran
Sesudah membaca Al-Quran
kita diharapkan bisa mengamalkan isi kandungan Al-Quran, meneladani akhlak
Rasul sesuai Al-Quran, muhasabah diri, dan berpegang teguh terhadap Al-Quran.
Nah, dengan kita
membaca Al-Quran sesuai adab-adabnya dan diharapkan bisa mengamalkan
dikehidupan sehari-hari semoga kita bisa selalu istiqomah. Insyaa Allah, kelak Al-Quran
menemani kita dan bersaksi kepada malaikat di alam kubur nanti. Wallahu a'lam
bish-shawabi.













